Berani Bertanggungjawab

Berani Bertanggungjawab

Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

 

Sebuah ungkapan bijak mengatakan bahwa harga sebuah kebesaran jiwa seseorang terletak pada tanggungjawabnya. Kosa kata “tanggungjawab” memang mudah diucapkan di lidah namun sulit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Di dunia ini, setiap orang pada prinsipnya pasti memiliki tanggungjawab dalam kadar dan ukuran masing-masing. Tanggung jawab seseorang itu tidak hanya berupa jabatan atau kewenangan namun juga berwujud tugas-tugas, pekerjaan, kewajiban agama, komitmen sosial atau bahkan perbuatannya sendiri. Luasnya lingkup tanggungjawab ini sangat mendapat perhatian Rasulullah SAW dimana beliau bersabda tentang hal ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibn Umar, Kullukum rā`in, wa kullu rā`in mas’ūlun `an ra`iyyatihi; “Setiap kalian adalah seperti seorang penggembala dan setiap penggembala bertanggungjawab terhadap gembalaannya.”

Salah satu bentuk tanggungjawab yang dipikul oleh seseorang atas apa yang dilakukannya adalah berani mengakui kesalahan jika memang telah benar-benar melakukannya. Bagi orang-orang yang lemah jiwa, dimintai pertanggungan jawab atau keharusan mengakui sebuah kesalahan merupakan momok yang sangat menakutkan. ‘Penyakit ketakutan’ ini seringkali membuatnya lari dari tanggung jawab dan menganggapnya sebagai solusi yang dianggap paling ampuh untuk mengobati beban berat yang menghimpit dari bayang-bayang kekhawatiran akan mendapat rasa malu, kena marah, disebut tidak becus, atau kehebatannya menjadi terasa berkurang jika mengakui sebuah kesalahan yang pernah dilakukan.

Sebaliknya, bagi orang-orang yang berjiwa besar sebuah kesalahan dipahami betul sebagai bagian dari kenyataan hidup yang harus dihadapi. Mereka tidak pernah membutuhkan kambing hitam sebagai objek pelampiasan kesalahan atau tempat berlari dari kenyataan. Sikap seperti inilah yang diteladankan oleh bapak umat manusia Nabi Adam AS dan istrinya Hawwa ketika mereka berdua melakukan sebuah kesalahan karena terbujuk godaan Iblis, yakni memakan buah pohon yang terlarang di syurga.

Secara ksatria, keduanya mengakui kekeliruan tersebut dan mengembalikan tanggung jawabnya kepada diri mereka sendiri. Al-Qur’an surah Al-A`rāf [7]: 23 mengabadikan pengakuan mereka, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni diri kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk dari orang-orang yang merugi”.

Berani mengakui sebuah kesalahan adalah bukti kematangan dan kebesaran jiwa seseorang, sekaligus menjadi pintu bagi perbaikan diri pada masa yang akan datang. Nabi SAW bersabda: “Setiap anak Adam pastilah banyak berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat (mau mengakui, menyesali dan tidak mengulanginya kembali kesalahan itu).” HR. Ibn Majah dan Al-Bazzar.

 

23 Februari 2010 / 9 R. Awal 1431H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: