SALING MENASEHATI

“Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh

dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran

dan nasehat-menasihati supaya menetapi kesabaran,”

(QS. al Ashr 1-3).

Dalam ayat-ayat di atas, Allah memberikan kriteria golongan manusia yang selamat dari kerugian pada setiap satuan waktu. Mereka adalah golongan yang tidak berhenti sebatas beriman dan beramal saleh, melainkan juga saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Sighat atau bentuk kata yang digunakan dalam kata tawashaw menunjukkan kata kerja berbalasan (saling menasehati). Yakni, mau memberi nasehat sekaligus siap menerimanya dari orang lain.

Hal ini tentunya membutuhkan kekuatan pribadi masing-masing individu. Orang yang memberi nasehat haruslah ikhlas dan bijaksana dalam memberi nasehatnya dengan memilih kata-kata yang baik dan dengan memperhatikan situasi yang tepat. Sebaliknya orang yang diberi nasehat mestinya menerima nasehat dengan jiwa besar dan sikap terbuka. Allah swt memuji sikap terbuka ini,”…maka berilah kabar gembira bagi hamba-hamba-Ku. Yaitu, mereka yang mendengarkan perkataan, kemudian mengikuti mana yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berakal budi,” (QS.39:18)

Nasehat itu sendiri adalah instrumen signifikan dalam proses mencapai kebenaran. Sebab manusia seringkali tidak mampu mengevaluasi dirinya sendiri. Atau, kadang-kadang persepsinya terhadap baik dan buruknya sesuatu itu subyektif. Disinilah diperlukan nasehat dari orang lain sebagai masukan.

Nasehat tidak terbatas pada ucapan-ucapan verbal. Tetapi, nasehat bisa datang dari sikap dan tingkah laku orang-orang disekitar kita, sebagai cermin hidup dimana seseorang bisa melihat bayangan dirinya. Rasulullah bersabda, ”Orang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya,”(HR. Abu Dawud).

Namun perlu diingat, disamping perlunya sikap terbuka dalam menerima nasehat, harus dibarengi pula dengan kewaspadaan tipu daya orang yang sok memberi nasehat, padahal ingin menjerumuskan. Allah berfirman, ”Dan,dia(iblis) bersumpah kepada keduanya (Adam dan istrinya), sungguh saya adalah termasuk orang yang memberikan nasihat kepeda kamu berdua,” (QS.7;21).

Wallahu a’lam***

Oleh : Muhammed  Shahr El Murojab

>>Tulisan ini pernah dimuat di Rubrik HIKMAH, harian REPUBLIKA Jakarta hari Sabtu, 12 Jumada al- Akhirah 1419H/ 3 Okt 1998

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: