Dua Sisi Mata Uang Kehidupan

By: Muhamad Sahrul Murajjab
Ternyata, Allah memang telah menjadikan segala sesuatu berpasang-pasangan. Kesimpulan ini sudah tidak mungkin diragukan lagi, sehingga sah-sah saja saya memulai tulisan ini dengan sebuah kesimpulan.
Bahkan jika kita kemudian mencermati semua fragmen kehidupan ini maka ia tidak lain hanyalah bukti nyata yang memberikan pelajaran besar tentang konsep keseimbangan “berpasang-pasangan” ini.
Barusan saja, saya tergelitik oleh sebuah postingan status seorang teman di Facebook yang potongan kalimatnya berbunyi demikian “Anak-anak sore itu menanti banjir. Banjir adalah berkah buat mereka. Bisa dorong kendaraan yang mogok kesana kemari ….

Bergegas saya menulis komentar pendek “Musibah dan keberuntungan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisah. Kearifan orang Arab bilang “Mashooibu qaumin `inda qaumin fawaaidu”. Arti dari kearifan itu adalah bahwa musibah-musibah yang menimpa seseorang atau satu kaum bisa jadi itu adalah keberuntungan bagi kaum yang lain lain.

Lihat saja! Ban motor kita yang pecah ditengah jalan merupakan keberuntungan besar bagi seorang tukang tambal ban. Jika hari ini ada keluarga kita yang jatuh sakit artinya rezeki si dokter anu hari ini bertambah! Atau pas kita apes ketinggalan kereta di stasiun, itu maknanya kita harus berbagi rezeki dengan Bang Ojek, dan lain-lain seterusnya.

Oh ya ada contoh yang hampir terlupa. Ketika Situ Gintung jebol dan menelan banyak korban, maka ketika itu juga “keberuntungan inspiratif” bagi sebagian parpol mendapatkan bahan kampanye yang up to date.
Wal hasil, lantas apa makna dari semua itu?? Kearifan dalam melihat kehidupan; itulah jawabnya. Tak perlu tergesa untuk bikin dugaan-dugaan, asumsi, apalagi cercaan terhadap nasib. Yang terbaik adalah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Sang Guru Muhammad SAW, “Sungguh mengagumkan cara hidup seorang mu’min. Hingga keseluruhan urusan hidupnya baginya adalah selalu baik. Dan hal tersebut tidaklah mungkin dimiliki oleh selain orang yang mu’min*. Jika ia bertemu dengan apa-apa yang menyenangkan hatinya ia bersyukur, maka kesyukuran itu adalah hal yang terbaik baginya. Dan jika ia ditimpa sesuatu yang bahaya atau menyedihkan maka ia akan bersabar dan kesabaran itu adalah hal yang terbaik bagi dirinya” (HR. Ahmad dan Muslim, dengan sedikit perbedaan redaksi ).
# Refleksi Jumat, 1 Mei 2009/ 6 Jumada al-Ula 1430, ba’da Mahgrib
* Ketika menulis catatan ini atau dalam konteks tulisan ini, saya memahami makna mu’min/beriman dengan mengerti dan mempercayai betul hakikat Allah, yang implikasinya juga mengerti betul “hakikat makhluk”/kehidupan ini serta dunia seisinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: