Kacamata Kuda dan Kacamata 4 D [obroLan 7]

By: M  Sahrul Murajjab

Beberapa hari lalu, seperti biasa saya berangkat kerja menggunakan jasa KRL AC Ekonomi dari arah Bogor-Jakarta. Sampai di stasiun Pondok Cina (kalau tidak keliru) sekitar dua atau tiga penumpang baru yang masih tergolong muda (kira-kira usianya 30-40 tahunan) masuk KRL. Di belakang mereka seorang bapak tua memikul dua keranjang cukup besar bermuatan buah-buahan sebenarnya juga berupaya masuk namun tidak jadi karena ia melihat KRL tampak sudah tidak mencukupi. Sang Bapak itupun urung, meski dirinya sempat mau melangkahkah kakinya ke pintu KRL.

Begitu pintu KRL AC tertutup, salah satu pemuda yang baru masuk –mungkin karena mulutnya gatal- tiba-tiba berkomentar, “Huh, emangnya KRL ini kereta barang!” ujarnya ketus. Meski omongannya hanya didengar oleh orang-orang disekitarnya di dalam KRL, tapi jelas ia bermaksud merngungkapkan rasa kesalnya kepada Si Bapak Tua tadi. Saya sempat melihat raut muka si Bapak Tua yang tampak kecewa karena gagal naik KRL AC yang barusan lewat di depannya.

Mungkin karena tidak puas dengan sepatah kata yang baru dilontarkannya, ia pun melanjutkan, “Dasar penjual! Emang gak pernah mau rugi. Masak bawa bawaan sebesar itu mau naik KRL AC”, ujarnya melanjutkan masih dengan nada ketus.

Saya yang berada dekat dengan si Pemuda diam tidak berkomentar. Tapi saya berfikir, betapa hidup itu sering terasa ’runyam’ jika dipandang dengan model kacamata kuda. Mungkin benar, jika menggunakan logika sebagai penumpang KRL seperti si Pemuda, kita akan mudah menyalahkan atau mengumpat si Bapak Tua yang ”tanpa beban tanpa rasa berdosa” mencoba menaiki KRL AC yang “nyaman” itu. Bayangkan saja, jika sering-sering KRL AC dimasuki oleh para penjual yang hendak menuju tempat jualannya seperti Bapak Tua tadi dan teman-teman seprofesinya, maka akan jadi bagaimana nasib penumpang yang lain.

Tapi jika kita mau bijak sedikit, berupaya mengurai masalah dengan kacamata “empat D” (maksud saya: kacamata yang bisa melihat dari empat arah berbeda, bukan kacamata kuda) tentu kita bisa menemukan alasan-alasan bagi si Bapak tadi dan bisa memahami tindakannya. Mungkin, baginya KRL AC yang barusan lewat didepannya adalah transportasi paling realistis untuk mencapai tempat tujuannya. Dengan tiket yang hanya seharga Rp. 5.500, ia biasa sampai di pasar yang ditujunya dengan cepat. Apalagi barang dagangan belum tentu laku dan keuntungan besar belum tentu didapat. Katakanlah, jika tujuan akhirnya di wilayah Kota, maka seberapa lama dan seberapa banyak biaya yang harus ia keluarkan jika harus menggunakan angkot?!. Atau, mungkin ia sedang dikejar waktu sehingga hari itu ia tidak mau berlama-lama menunggu KRL ekonomi non-AC yang memang sering digunakan oleh rekan-rekan seprofesinya.

Yang tidak diragukan, si Bapak Tua pastilah berasal dari kalangan rakyat kecil yang sederhana. Fikirannya tentu tidak mampu menjangkau jauh kedepan dan bahkan wawasannya pun tidak terlalu luas, terutama jika dibandingkan dengan si Pemuda perlente yang kelihatan kantoran itu.

Sekali lagi, saya hanya diam. Berfikir. Merenung. Juga bertanya-tanya. Seandainya saya jadi anak muda tadi, tidakkah bisa saya menahan diri mengeluarkan kata-kata tidak perlu itu. Apalagi seandainya sang Bapak Tua mendengarnya saya yakin dia akan marah –jika ia seorang yang temperamen- atau bisa jadi bersedih dan menangis dalam hati jika ia seorang yang sensitif!!

Pejambon, Gambir 29 Mar 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: