Aku dan Keangkuhan itu.. [obrolan 6]

By: M. Sahrul Murajjab

[dengan sedikit perubahan, pernah dimuat di Harian Republika, Sabtu, 20/2/2010]

http://www.republika.co.id/berita/104588/aku-dan-keangkuhan

Suatu kali, seorang bijak ditanya oleh salah seorang muridnya. “Tuan Guru, adakah kejujuran yang tidak baik? Sang Guru Bijak tersebut menjawab, “Pujian seseorang atas dirinya sendiri!”. Maksudnya, ketika seseorang bercerita hal-hal baik dari atau tentang dirinya sendiri, meskipun cerita tersebut adalah benar dan jujur maka hal demikian itu menurut Sang Guru Bijak tadi adalah kejujuran yang tidak baik, karena bisa memunculkan perasaan bangga diri dan kesombongan.

Seseorang, ketika melihat dirinya sendiri atau mengatakan “aku” maka yang biasanya timbul adalah subyektifitas. Kata “aku” bisa menjadi sebuah kata yang bermuatan negatif dan dibenci jika keluar dari mulut seorang makhluk. Tahukah anda, siapakah makhluk yang pertama mengucapkan kata ”aku” selain Sang Pencipta?? Dialah Iblis, yang mengucapkan kata ”aku” dengan penuh kesombongan dan perasaan tinggi hati.

Kisahnya, ketika Allah memerintahkan Iblis bersujud kepada Adam AS, Iblis menolaknya dengan penuh keangkuhan dan berkata, ”Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan engkau menciptakannya dari tanah”. (QS. Al-A`raf: 12)

Kata ”aku”, meluncur dari mulut Iblis pertama kali sebagai ungkapan pengagungan dan penyucian diri sendiri di hadapan Allah yang menciptakannya. Meskipun dia mengakui bahwa dirinya hanyalah makhluk yang diciptakan, tapi nyatanya mengapa ia membangkang? Mengapa ia menyanjung dirinya dan melupakan karunia Penciptanya?? Karena sikap Iblis ini, dikalangan masyarakat awam sering muncul sebuah ungkapan bahwa tidak ada seorangpun yang memuji dirinya sendiri kecuali Iblis!.

Demikianlah bahaya kata ”aku” dan perasaan bangga diri. Para ulama suluk sering menyebutnya sebagai salah satu penghancur (muhlikāt) kehidupan manusia. Allah-pun telah melarangnya dengan tegas dan berfirman, ”maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. Al-Najm: 32). Pada ayat lainnya, ketika menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah juga berfirman, ”Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak teraniaya sedikitpun.” (QS. Al-Nisa: 49)

Kata ”aku” dengan muatan keagungan, pujian dan ketinggian, laiknya hanyalah milik Allah SWT, pencipta semesta alam.

@Thanx to Syaikh Yusuf al-Qaradlawi yang telah menginspirasi tulisan ini.

Jakarta, 17 Feb 2010/ 1 Rabi`ul Awwal 1431

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: