Qarun dan KRL AC -ObRolan 5

Hari ini merupakan kali kedua saya “terpaksa” membawa dan membaca mushaf Al-Quran di dalam KRL AC jurusan Bogor-Kota. Agak “gimana” emang!

Tapi mau bagaimana lagi, lha wong gara-gara banyak urusan duniawi, tiga-empat hari belakangan ini saya agak kesulitan meluangkan waktu membaca Al-Quran secara proporsional di rumah. Mungkin masalahnya bukan tingkat kesibukan yang menyita masa, melainkan lebih karena manajemen waktu yang amburadul. Makanya, di rumah, terkadang untuk menyiasatinya saya coba dengerin rekaman murattal digital dari laptop untuk mengurangi ketidakproposionalan tersebut.

Itu  urusan pertama yang ingin saya sampaikan pada ObRolan kali ini.

Urusan kedua adalah mengenai ayat-ayat yang ‘kebetulan’ saya baca tadi pagi di KRL.

Pada kesempatan itu perhatian saya tertuju pada beberapa ayat yang berbicara mengenai Qur’anic Worldview (cara pandang al-Quran) terhadap kenikmatan kehidupan duniawi dengan segala atributnya.

Tepatnya, saya membaca beberapa bagian surah Al-Qashash yang berarti kisah/cerita. Dalam surat ini Allah mengisahkan beberapa cerita untuk kita ambil pelajarannya. Kisah yang menarik saya kali ini adalah kisah Qarun yang Allah mulai paparkan dari ayat ke 76; “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”

Pikir saya, hebat bener ini orang. Tajir kali kau!, sehingga kunci-kuncinya saja sangat berat dipikul orang-orang kuat. Apalagi isi “lemari/brangkas” nya?

Sayang sekali… Nyatanya dia tidak pernah merasa bahwa itu adalah pemberian atau titipan Allah yang harusnya dia syukuri. Dia malah mengklaim bahwa itu semua adalah hasil cucuran keringat dan otak encer-nya sendiri. “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash:78). Ini nih, virus penyakit yang sering menghinggapi orang pinter, orang kaya dan orang sukses. Merasa semua yang dicapai adalah berkat kemampuannya sendiri.

Dan seperti lazimnya terjadi pada orang-orang zaman kini yang mudah tergiur harta kekayaan milik orang,  kemewahan Qarun ini juga bikin ngiler orang-orang di sekitarnya. Sampai-sampai mereka berkhayal bisa bernasib sama seperti Qarun. (QS. Al-Qashaash:79).  Begitulah, dari Zaman Qarun yang merupakan masa kuno hingga masa kini watak manusia nggak beda jauh. Yang kaya nggak bersyukur, yang miskin merasa bahwa keberlimpahan harta itu adalah kenikmatan segalanya.

Tapi tunggu dulu, ternyata kisah Qarun yang kufur nikmat itu enggak happy ending. Di ujung narasi dia dibenamkan oleh Allah beserta seluruh kekayaannnya ke perut bumi. (QS. Al-Qashash: 81), meninggalkan khayalan dan keinginan orang-orang yang dulu mengaguminya terpukul telak yang ahirnya bikin mereka tersadar bahwa kesuksesan materi itu belum tentu membawa kabaikan paripurna melainkan jutru terkadang menjadi jalan mulus yang menghantarkan pemiliknya menuju neraka!

Ingin saya kembali merenungi ayat yang jauh-jauh disebutkan sebelum kisah Qarun yaitu pada (QS. Al-Qashaash: 60). Disitu Allah mengingatkan pada kita: “Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”.

Kenikmatan duniawi bukan tolak ukur kasih sayang Allah kepada makhlukNya. Ia tak lebih sebagai ujian untuk menuju “apa yang ada di sisi Allah” di akhirat nanti; yang kekal dan jauh lebih baik.

Tentu saja, meski kehidupan akhirat adalah sasaran utama, namun memperjuangkan dunia bukan tidak boleh. Bahkan Allah melarang kita melupakan hal yang satu ini. Lihat dalam surat yang sama (QS. Al-Qashaash:79) “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) di negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”

Sebuah teguran lembut tapi mengena dihati, apalagi jika hati kita sedang dipenuhi ambisi-ambisi duniawi yang tak berujungpangkal.

Muhamad Sahrul Murajjab

Gambir,  8 Feb 2010/23 Shafar 1431

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: