Unidentified Flying Envelope (UFE) -Obrolan 4


By: M. Sahrul Murajjab

Alhamdulillah..! Lega hati rasanya siang ini selepas mengirim uang sebesar Rp. 620.000 ke sebuah lembaga sosial yang biasa mengelola dana kemanusiaan terkemuka di Jakarta. Niat yang sempat tarik ulur dan tertunda lama ini akhirnya terlaksana juga.

Anda jangan buru-buru menyangka bahwa saya telah berbuat baik. Atau menilai saya sebagai sosok dermawan nan murah hati. Sekali-kali tidak. Never..!!

Uang yang baru saya transfer itu adalah uang negara yang juga uang rakyat. Saya hanya mengembalikan saja. Yang saya lakukan hanyalah sebuah kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh siapapun yang mengalami hal yang sama. Ini bukan perkara aktivitas sunnah (kebaikan sukarela), atau keunggulan moral yang bisa dipilih sehingga pelakunya bisa membusungkan dada merasa bangga (’ujb) atau seolah gagah dilihat orang (riya’).

Rupiah sejumlah itu adalah uang yang berada dalam lipatan Unindentified Flying Envelope (UFE). Yakni amplop ”tidak teridentifikasi” alias nggak jelas (bahasa santrinya: ”la yajlis”) asal-muasalnya, yang saya terima dari hasil sebuah perjalanan dinas resmi/sah dan saya kerjakan benar perjalanan itu, tapi dengan tugas/pekerjaan ”fiktif” (yakni; saya tidak melakukan tugas sebagaimana di atas kertas)  ke sebuah kota di luar Jakarta beberapa minggu lalu.

Menurut pandangan saya, menyikapi uang-uang seperti ini, langkah pertama yang saya coba ambil adalah melakukan penolakan untuk menerima. Kedua, jika tidak mungkin atau terlanjur diterima, maka berupaya mengembalikan uang tersebut ke negara (ini karena saya bekerja di sebuah institusi pemerintah yang dibiayai negara). Lantas jika mengembalikan ke negara cukup menyulitkan dengan berbagai alasan, maka langkah terakhir yang paling mungkin adalah menyalurkannya ke lembaga-lembaga sosial yang biasa ngurusin orang-orang miskin. Alasan saya, karena pada hakekatnya oarang-orang miskin itu sejatinya berada dibawah tanggungan negara (baik menurut perspektif konstitusi maupun agama).

Demikianlah, yang saya lakukan itu kira-kira sama persis dengan ”fatwa” yang pernah saya sampaikan beberapa waktu lalu kepada satu atau dua kolega kantor yang juga mengeluhkan ”uang hasil manipulasi tanggal” yang pernah diterimanya.

***

Adalah benar (bagi saya), bahwa untuk sampai kepada keputusan seperti tersebut di atas terkadang terasa berat dan membutuhkan waktu. ”Otak rakus” saya sering berupaya mati-matian mencari seribu satu alasan untuk menjustikasi bahwa uang itu sah dan halal-halal saja saya nikmati. Apalagi jika jumlahnya lumayan. Katakanlah untuk kasus diatas, uang Rp. 600.000 adalah cukup berarti bagi seorang PNS yang take home pay rutinnya hanya sekitar 2-jutaan. Kaciaaaan dech lu!

Namun mengingat petuah guru saya, Sang Nabi Muhamad, yang ajaran-ajarannya hanya saya dapatkan melalui transmisinya saja, beliau pernah mengajarkan bahwa,” ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat (samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal syubhat, maka ia telah membersihkan kehormatan diri  dan agamanya (HR. Al-Bukhori).

Untungnya, di tempat kerja saya sekarang ini, UFE-UFE seperti di atas sangat jarang muncul di angkasa raya, dibanding tempat lama saya sekitar setahun yang lalu, dimana UFE-UFE itu bertebaran di sana-sini.

®jab 04-01-2010

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: