Orang Miskin tak Boleh Sakit? (Obrolan 1)

14 Des 2009 / 26 Dzul Hijjah 1430

Hampir tepat setahun yang lalu, tanggal 2 Desember 2008, saya mengalami kecelakaan kendaraan bermotor di jalan Pramuka, Jakarta Timur. Idul Adha yang sudah dekat, persiapan keberangkatan ke Bali untuk berpartisipasi dalam kepanitiaan Bali Democracy Forum I, serta pengambilan sumpah jabatan PNS di Pusdiklat Deplu menjadi titik-titik lingkaran peristiwa yang menghantarkan saya kepada pengalaman itu.

Kecelakaan tersebut merupakan kecelakaan terberat yang pernah saya alami sepanjang sekitar 30 tahun usia hidup saya. Bahkan saat detik-detik kecelakaan, sempat terlintas dalam pikiran saya bahwa ajal saat itu akan segera menjemput; dimana sudah membayangkan akan menjadi sebuah mayat, meninggalkan seorang istri dan seorang bayi perempuan yang baru berusia sekitar satu tahun.

Alhamdulillah, ternyata Allah masih memberi umur panjang. Saya “hanya” mengalami luka retak (istilah kedokterannya: kompresi) pada tulang punggung yang sangat vital, serta beberapa luka yang relatif lebih ringan seperti patah tulang jari kelingking tangan kiri dan kaki maupun luka-luka luar lainnya. Saya-pun sempat beberapa lama harus berbaring di atas lempengan triplek kayu lurus dan sempat divonis oleh dokter harus menjalani operasi tulang punggung. Meski, lagi-lagi, kebesaran Allah masih tidak menghendaki hal itu terjadi.

Saat itu banyak bantuan saya terima baik dari teman-teman di Deplu, teman-teman semasa Kuliyah di The Faculty of Islamic Call, Tripoli, kenalan dan rekan kerja di Libya, rekan kuliah S2, komunitas-komunitas lainnya, keluarga serta handai-tolan baik bersifat materil maupun immateril sehingga sangat meringankan beban fisik, psikis dan ”beban-beban lainnya”. Untuk itu, dalam kesempatan ini kembali saya ucapkan jazakumullah khairal jaza’ dan rasa terimakasih sebesarnya kepada semua pihak yang telah memberikan budi baiknya kepada saya waktu itu.

Akan tetapi disamping rasa syukur atas kepedulian orang-orang disekitar saya tersebut, terbetik semacam ”kesedihan” di hati saya. Pikir saya, hidup ini terkadang peruh ironi. Bagaimanapun kebutuhan saya akan bantuan orang lain saat itu, saya beranggapan bahwa nyatanya saya adalah bukan orang yang ”miskin-miskin amat”. Selain memiliki pekerjaan dan gaji tetap –meski kecil, pns coy! -, saya juga punya tabungan meski tidak banyak. Dalam kondisi demikian, saya menerima banyak bantuan dari banyak orang yang sebagiannya karena itu saya tolak dengan halus dan saya sarankan untuk diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkan!

Saya membayangkan, bagaimana jika kecelakaan yang sama dan dengan luka yang sama terjadi atas mereka orang-orang terlantar, warga miskin yang tidak memiliki banyak jaringan teman berpunya, atau para gelandangan yang tidak menyimpan sedikitpun harta tabungan?? Akankah mereka akan tergeletak begitu saja, menunggu nasib, sementara keluarganya (kalau ada) pusing tujuh keliling memikirkan biaya perawatan atau pengobatan yang demikian mahal?? Sementara tidak ada teman-teman dia yang bahu-membahu membantu karena sama-sama miskin. Keluarganya pun tidak ada yang mencarikan biaya, karena bagaimana bisa, lha wong mencari makan untuk dirinya saja susah!

Itulah ironi hidup. Banyak orang yang relatif berkecukupan justru menerima lebih banyak dari mereka yang kekurangan… Dalam banyak hal… Dalam berbagai hajat hidup.

Jika demikian halnya, lantas apa yang seharusnya kita lakukan? Untuk memberikan bantuan kepada semua orang miskin tentu tidak mungkin. Menurut saya, cukuplah sebagai sebuah kebaikan paripurna jika kita bisa senantiasa menyisihkan rezeki kita untuk mereka, yang bisa kita salurkan secara langsung ataupun (recommended) melalui lembaga-lembaga kemanusiaan terpercaya seperti Dompet Dhuafa, Pos Kemanusiaan Peduli Umat (PKPU), Rumah Zakat dan lain-lain masih banyak lagi!!

Sampai jumpa pada obrolan berikutnya!

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: