Berani Bertanggungjawab

March 14, 2011

Berani Bertanggungjawab

Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

 

Sebuah ungkapan bijak mengatakan bahwa harga sebuah kebesaran jiwa seseorang terletak pada tanggungjawabnya. Kosa kata “tanggungjawab” memang mudah diucapkan di lidah namun sulit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Di dunia ini, setiap orang pada prinsipnya pasti memiliki tanggungjawab dalam kadar dan ukuran masing-masing. Tanggung jawab seseorang itu tidak hanya berupa jabatan atau kewenangan namun juga berwujud tugas-tugas, pekerjaan, kewajiban agama, komitmen sosial atau bahkan perbuatannya sendiri. Luasnya lingkup tanggungjawab ini sangat mendapat perhatian Rasulullah SAW dimana beliau bersabda tentang hal ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibn Umar, Kullukum rā`in, wa kullu rā`in mas’ūlun `an ra`iyyatihi; “Setiap kalian adalah seperti seorang penggembala dan setiap penggembala bertanggungjawab terhadap gembalaannya.”

Salah satu bentuk tanggungjawab yang dipikul oleh seseorang atas apa yang dilakukannya adalah berani mengakui kesalahan jika memang telah benar-benar melakukannya. Bagi orang-orang yang lemah jiwa, dimintai pertanggungan jawab atau keharusan mengakui sebuah kesalahan merupakan momok yang sangat menakutkan. ‘Penyakit ketakutan’ ini seringkali membuatnya lari dari tanggung jawab dan menganggapnya sebagai solusi yang dianggap paling ampuh untuk mengobati beban berat yang menghimpit dari bayang-bayang kekhawatiran akan mendapat rasa malu, kena marah, disebut tidak becus, atau kehebatannya menjadi terasa berkurang jika mengakui sebuah kesalahan yang pernah dilakukan.

Sebaliknya, bagi orang-orang yang berjiwa besar sebuah kesalahan dipahami betul sebagai bagian dari kenyataan hidup yang harus dihadapi. Mereka tidak pernah membutuhkan kambing hitam sebagai objek pelampiasan kesalahan atau tempat berlari dari kenyataan. Sikap seperti inilah yang diteladankan oleh bapak umat manusia Nabi Adam AS dan istrinya Hawwa ketika mereka berdua melakukan sebuah kesalahan karena terbujuk godaan Iblis, yakni memakan buah pohon yang terlarang di syurga.

Secara ksatria, keduanya mengakui kekeliruan tersebut dan mengembalikan tanggung jawabnya kepada diri mereka sendiri. Al-Qur’an surah Al-A`rāf [7]: 23 mengabadikan pengakuan mereka, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni diri kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk dari orang-orang yang merugi”.

Berani mengakui sebuah kesalahan adalah bukti kematangan dan kebesaran jiwa seseorang, sekaligus menjadi pintu bagi perbaikan diri pada masa yang akan datang. Nabi SAW bersabda: “Setiap anak Adam pastilah banyak berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat (mau mengakui, menyesali dan tidak mengulanginya kembali kesalahan itu).” HR. Ibn Majah dan Al-Bazzar.

 

23 Februari 2010 / 9 R. Awal 1431H

Menjemput Nafahat (10 Hari yang Istimewa)

November 10, 2010

Oleh: M. Sahrul Murajjab

 

Diantara cara Allah SWT menunjukkan kasih sayang-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman adalah dengan memberikan keistimewaan khusus (privileges) kepada waktu atau tempat tertentu di mana Allah melipatgandakan nilai amal salih yang dikerjakan. Inilah yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai “anugerah” atau “angin sejuk” (nafahat) dalam sabdanya:

 

إن لله في أيام الدهر نفحات فتعرضوا لها،  فلعل أحدكم أن تصيبه نفحة فلا يشقى بعدها أبدًا” – صحيح الجامع

 

“Sesungguhnya diantara hari-hari yang ada sepanjang masa, (terdapat hari-hari dimana) Allah mempunyai anugerah (nafahat), maka carilah ia. Andai saja salah seorang diantara kalian mendapatkannya, maka ia tidak akan celaka selamanya”. (HR. Al-Thabarani dari Muhamad bin Maslamah r.a, sahih)

 

Salah satu nafahat tersebut terdapat pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzul Hijjah, yang keistimewaannya dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi SAW bersabda : “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah”. Para sahabatpun bertanya : “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”. Beliau menjawab: “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” Berdasarkan hadits ini Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma’arif menegaskan bahwa perbuatan amal salih di sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah ini lebih baik nilainya dan lebih disukai Allah dari hari-hari lainnya tanpa terkecuali.

 

Alasan keistimewaannya, menurut Ibn Hajar al-‘Asqallani dalam Fathul Bari dikarenakan berkumpulnya sejumlah ibadah-ibadah pokok di dalamnya seperti shalat, puasa, sedekah (ibadah qurban) dan haji. Selain itu dari sepuluh hari tersebut terdapat hari yang paling mulia menurut Allah yaitu yaum al-Nahr (hari raya Qurban/’Idul Adha) dan hari Arafah. Tentang keutamaan hari ‘Arafah Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada satu haripun yang Allah lebih banyak membebaskan hambanya dari api neraka selain pada hari ‘Arafah”. (HR. Muslim).

 

Mengingat sedemikian istimewanya sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, para ulama memberikan wejangan agar kesempatan tersebut tidak disia-siakan dan dapat digunakan sebaik-baiknya untuk memperbanyak taubat, menjauhi maksiyat, menjalankan amalan wajib dan meningkatkan ibadah sunnah, antara lain dengan menjalankan ibadah puasa khususnya pada hari kesembilan (Puasa Arafah) yang memiliki keutamaan dapat menghapus dosa dua tahun, yaitu tahun yang telah berlalu dan tahun sedang berlangsung (HR. Muslim). Selain itu bagi yang mampu sangat dianjurkan mengerjakan ibadah qurban dan menebarkan sedekah maupun amal sosial lainnya, terlebih di saat banyak yang tertimpa bencana dan sangat membutuhkan pertolongan.

 

Depok, 07 Nop 2010 / 1 Dzul Hijjah 1431

Oleh-oleh Cerita Lucu dari Libya

September 29, 2010

Cerita ini saya dapatkan “aseli” di Libya, saat saya masih sekolah disana.

Alkisah, terdapat dua orang mahasiswa Al-Azhar, Mesir yang sangat akrab. Yang satu bernama Umar yang asli penduduk Kairo, serta satunya lagi Zaid dari Iskandaria.

Suatu ketika, setelah ujian akhir tahun (atau yang biasa dikenal dengan istilah Imtihan Daur Awwal) selesai, si Zaid menemui Umar untuk berpamitan pulang kampung ke Iskandaria sembari menunggu hasil nilai ujian tersebut diumumkan.

”Kawan!”, kata Zaid membuka percakapan. ”Saya akan pulang kampung besok lusa insya Allah. Nanti pada saat hasil ujian telah diumumkan bulan depan, tolong kabari saya nilai ujian saya melalui surat segera ya..!.”

”Baiklah.”, sambut Umar dengan senang hati.

”Namun, ingat Umar”, timpal Zaid, ”Saya merasa kurang yakin dengan satu atau dua mata kuliah ujian kemaren. Tolong jika ada satu mata kuliah saya yang gagal (rasib) beritahulah saya dalam surat itu nanti dengan menggunakan isyarat atau kode kalimat ”Muhammadun yusallimu ’alaika” محمد يسلم عليك . Adapun jika mata kuliah yang gagal ada dua, maka tolong tulis saja ”Muhammadani yusallimaani alaika” محمدان يسلمان عليك. Saya memintamu demikian karena saya tidak ingin hal itu diketahui orangtua saya. Saya khawatir kegagalan itu akan membebani mereka jika mereka tahu!.”

Alkisah lagi, singkat cerita Zaid pulang ke kampungnya di Iskandaria dan berlalulah tiga minggu sampai tiba saat pemgumuman hasil ujian di Kampus. Bergegas Umar mengirimkan surat pemberitahuan sebagaimana diminta Zaid.

Saat menerima surat dari Umar, Zaid-pun dag-dig-dug dan harap-harap cemas ingin segera mengetahui hasil ujiannya. Saat ia membuka surat tersebut, ternyata apa yang dia baca…??? Ternyata, dalam surat tersebut yang tertulis adalah kalimat : “Ummatu Muhammadin yusallimuuna a’alaika!”. أمة محمد يسلمون عليك

Makna di Balik Sebuah Doa: Doa Terlilit Hutang

August 30, 2010

Makna di Balik Sebuah Doa: Doa Terlilit Hutang

Oleh: M. Sahrul Murajjab

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud bahwa pada suatu ketika Rasulullah SAW menjumpai seorang sahabatnya sedang termenung sendirian di masjid. Padahal waktu itu bukan waktu sholat jamaah dan masjid pun sepi. Abu Umamah, nama sahabat itu, rupanya sedang mengalami masa-masa sulit dan diliputi kegalauan mendalam karena terlilit hutang. Mendapat keluhan Abu Umamah Nabi pun lantas mengajarinya sebuah doa khusus untuk diamalkan setiap pagi dan sore. Bunyi doa yang diajarkan Nabi SAW doa itu adalah;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Artinya, “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari beban/tekanan jiwa (hamm) dan kesedihan (hazan). Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan (‘ajz) dan kemalasan (kasal). Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut (jubn) dan pelit (bukhl). Dan aku berlindung kepada-Mu dari terkalahkan oleh hutang (ghalabat al-dain) dan penindasan orang (qahr al-rijal)”.

[Catatan: Hadits mengenai kisah tersebut di dlaifkan oleh sebagian ahli hadits seperti Syaikh Al-Albani. Adapun lafadz doa tesebut adalah shahih sebagaimana termuat dalam beberapa riwayat hadits lainnya]

Meskipun saat itu Nabi hanya mengajarkan doa, namun menurut Ali Muhamad Tawfiq dalam bukunya Allah Daliili fi Idarat A’mali (Allah Pemanduku dalam Manajemen Pekerjaaanku) menulis bahwa dibalik kalimat-kalimat doa tersebut tersimpan semangat, filosofi dan makna yang sangat dalam. Karena sejatinya doa adalah proses interaksi antara permintaan tolong dan kepasrahan kepada Allah dengan usaha dan langkah konkrit yang harus dilakukan oleh sang pendoa.

Doa tersebut di atas, setidaknya memuat enam nilai hidup yang sangat penting, utamanya bagi seseorang yang sedang terlilit hutang. Prinsip-prinsip tersebut yang pertama adalah keharusan untuk membebaskan diri dari tekanan kegelisahan dan rasa sedih yang berlebihan karena justru dapat menimbulkan pesimisme dan sikap pasif untuk mencari jalan keluar, padahal kekuasaan Allah jauh lebih hebat dari segalanya.

Kedua, perlunya menanggalkan rasa lemah diri dan kemalasan. Jeratan hutang barangkali justru datang disebabkan oleh karena kemalasan pribadi yang bersangkutan. Ketiga, sifat pengecut dan lari dari tanggungjawab tidak akan menyelesaikan masalah. Sang pemberi hutang, sebaiknya dengan tenang justru dihadapi dan diyakinkan bahwa ia mampu dan akan terus berupaya melunasi hutangnya.

Keempat, sesulit apapun kondisi keuangan tidak boleh merasa pelit/bakhil untuk mencicil hutang selama terdapat kemampuan meskipun sedikit sehingga hutang tidak semakin menumpuk dan berat dibayarkan. Kelima, ketika segala daya-upaya telah dilakukan secara maksimal dan ternyata hutang belum juga dapat terlunasi maka memohon perlindungan dari Allah adalah pilihan terbaik. Bukan malah lari ke dukun atau melakukan kejahatan. Keenam, memohon kepada Allah agar melunakkan hati sang pemberi hutang agar bisa mengerti keadaannya, memberikan kelonggaran, serta tidak berlaku keras sehingga justru menambah kecemasan and beban.

A – U – R – A – T !!

June 30, 2010

Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

=>Pernah di muat di Republika, Sabtu, 12 Juni 2010 / 29 J. Akhirah 1431H <=

Pada dasarnya setiap manusia sesuai dengan fitrahnya cenderung lebih merasa nyaman untuk menyimpan rahasia atau privasi dirinya agar tersembunyi dari jangkauan orang lain. Akan tetapi seiring kemajuan zaman yang disertai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, atau barangkali juga disebabkan oleh adanya gangguan kelainan, sebagian  orang kini  justru “berubah fikiran” menjadi lebih merasa senang jika privasinya dibaca, dilihat, didengar dan diketahui oleh orang lain.

Dalam Islam wilayah privat sangat dilindungi dan untuk itu setiap muslim juga diwajibkan untuk menjaga, menutupi dan menyimpan jenis-jenis privasi tertentu yang biasa diistilahkan dengan aurat. Selain yang berupa privasi fisik (anggota tubuh), yakni: seluruh apa yang berada diantara lutut dan pusar bagi kaum laki-laki dan seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan bagi kaum perempuan, aurat juga mencakup privasi-privasi yang bersifat non-fisik.

Apa yang dilakukan oleh seseorang ketika melakukan hubungan suami istri adalah termasuk diantara wilayah privat yang secara tegas dilarang untuk dibuka kepada publik dan disiarkan kepada orang lain. Asma’ binti Yazid menceritakan, bahwa pada suatu ketika ia berada di majelis Rasulullah saw sementara kaum laki-laki dan wanita duduk dan berkumpul di situ. Rasulullah bersabda, “Barangkali seorang laki-laki menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama isterinya? Barangkali seorang wanita menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama suaminya?” Para Sahabat yang berada di tempat tersebut terdiam. Akupun berkata, “Demi Allah, benar wahai Rasulullah! Sesungguhnya kaum wanita melakukan hal itu demikian juga kaum pria!” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Jangan lakukan! sesungguhnya hal itu seperti syaitan laki-laki yang bertemu dengan syaitan perempuan di jalan lalu keduanya bersetubuh sementara orang-orang melihatnya,” (HR. Ahmad, hasan lighairihi)

Wilayah privasi lain yang juga termasuk aurat yang harus ditutupi adalah aib dan perbuatan dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang. Kewajiban menutupinya merupakan tanggungjawab bersama baik bagi pihak yang melakukannya maupun orang lain yang sempat mengetahui perbuatan tersebut. Hal ini tentu saja berlaku selama tidak terdapat alasan syar’i yang membolehkannya untuk menceritakan aib tersebut. Terkait hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan diampuni dosa-dosanya kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Di antara orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tentang keutamaan menutup aib orang lain Rasulullah SAW bersabda: “Seorang hamba tidak menutupi aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat”. (HR. Muslim)

9 Juni 2010/25 J. Akhirah 1431